Selasa, 05 Januari 2010

RACHMITA, SEORANG TUNARUNGU YANG MERAIH GELAR INSINYUR

Industri/Profesi
Yayasan Tuna Rungu Sejahtera Jiwa Raga (SEHIJRA)/Ketua Yayasan
Subyek Penghargaan

Solusi terhadap kemandirian tuna rungu dengan memberikan pelatihan keterampilan.

Rachmita Maun Harahap (Mita) adalah anak ke empat dari enam bersaudara dari pasangan Masniari Siregar (61) dan Ali Panangaran Harahap (71). Empat anak pasangan mereka (termasuk Mita) menyandang tuna rungu, cacat sejak lahir. Dua anak lainnya normal. Mita lahir di Padang Sidempuan, Sumbar.

Meski tunarungu sejak lahir, tidak menghalangi Mita untuk berprestasi di sekolah normal. Mita berhasil lulus di SDN Kertajaya 10 dan SMPN 6 surabaya -- saat itu merupakan sekolah favorit -- dengan nilai memuaskan. Begitu juga dapat melewati SMU 1 Serang dengan nilai gemilang. Bahkan semasa SMU, mita ikut berbagai kegiatan ekstrakulikuler seperti tennis dan marching band. Ketika itu Mita terpilih bsebagai mayoret terbaik di Kota Serang. Lulus SMU, mita ikut ujian UMPTN targetnya UI atau ITB. Namun, karena usahanya gagal, akhirnya ia memutuskan untuk kuliah di di Univ. Mercubuana mengambil jurusan teknik arsitektur. Mita berhasil lulus dari Univ. Mercubuana dalam waktu 4,5 tahun dengan predikat cum laude. Dengan meraih prestasi tersebut membawa Mita mendapatkan beasiswa dari Bapak Probosutedjo (Ketua Yayasan Menara Bhakti) untuk melanjutkan studi program Magister Seni Rupa dan Desain, ITB.

Setelah meraih S2,Mita kembali ke Univ. Mercubuana. Pada tahun 2000 statusnya sebagai karyawan kontrak di Bag. Perancang Pengawasan dan Penataan Fasilitas Gedung dan Ruangan Kampus sambil menjadi dosen Tidak Tetap Jur. Teknik Arsitektur. Sejak Oktober 2005 statusnya menjadi karyawan tetap Bag. Workshop Desain Interior Fak. Teknik Sipil dan Perencanaan. Perjuangan menjadi karyawan tetap diraihnya dengan usaha keras karena saat itu pengangkatannya terhalang kondisi penyandang cacat.

Tidak semua penyandang cacat dapat seberuntung Mita. Masih ada puluhan juta penyandang cacat yang hidup dalam keterpurukan, kesulitan memperoleh lapangan pekerjaan dan mereka juga terdiskriminasi dalam berbagai kehidupan yang lain. Didorong pengalamannya yang susah menjadi karyawan tetap, Mita terjun dalam berbagai kegiatan sosial khususnya bagi penyandang cacat (penca). Kegiatan ini sudah dimulai sejak tahun 1991. Belakangan, 5 Desember 2001 Mita mendirikan dan kemudian menjadi ketua Yayasan Sehat Jiwa dan Raga atau disingkat SEHJIRA.

Modal awal saat itu atas pemberian dari orang tua Mita sebesar Rp 5 juta dan digunakan untuk membeli komputer dan pembuatan akte notaris. Tempat kegiatan masih di tempat tinggal orang tua. Setelah Mita bekerja di Universitas Mercubuana, penghasilannya digunakan untuk membiayai kegiatan yayasan. Selain itu, dia juga pernah menjadi peserta Superdeal (ANTV) dan mendapat hadiah Rp 8 juta dan uang tersebut digunakan untuk mengontrak rumah untuk kegiatan yayasan. Yayasan ini juga didukung oleh PPCI (Persatuan Penyandang Cacat Indonesia), sekolah SLB di Jakarta yang memberikan pelatihan kemandirian penca, Al-azhar peduli umat dalam bantuan fasilitas komputer.

Kegiatan utama SEHJIRA adalah:

  1.   Menggalang pengadaan dana
  2.   Menyediakan informasi tentang pendidikan dan lapangan kerja
  3.   Memberikan beasiswa kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu
  4.   Pelatihan kemandirian remaja tuna rungu untuk dapat mengaktualisasikan diri dengan cara yang positif
  5.   Penyaluran tenaga kerja tuna rungu yang belum bekerja
  6.   Melatih keterampilan menjahit dan membuat kue bagi remaja tuna rungu
  7.   Menerima pekerjaan menjahit dari perusahaan konveksi yang dikerjakan oleh anggota tuna rungu
  8.   Pengenalan bahasa isyarat (American Sign Language), mengaji dan kursus komputer

Pada awalnya (2001) baru 20 orang penca, sampai saat ini sudah ada 223 penca yang seluruhnya berasal dari wilayah Jabodetabek yang sudah ikut dalam program SEHJIRA. Hasil yang mereka raih, diantaranya 10 orang dari mereka sudah bisa menjahit. Dari keterampilan menjahit, mereka sudah membuka usaha sendiri di rumah dan juga sudah bekerja di perusahaan garmen. Salah satu dari mereka meraih prestasi menjadi juara pertama lomba membuat jas tingkat nasional. Selain keahlian menjahit, 8 penca lainnya sudha bekerja di bagian marketing, auditing, keuangan, administrasi dan juga sebagai supir. Keahlian lain sekitar 13 orang sudah bisa komputer, 7 orang sudah bisa bahasa isyarat dan 13 orang sudah diterima di sekolah SMP umum.

Harapan Mita ingin mendirikan sekolah dari mulai tingkat TK sampai universitas untuk tunarungu. Keinginan ini tiada lain karena ingin mewujudkan kesamaan dan kesempatan bagi penca agar dapat mengisi segala aspek kehidupan dan penghidupan.
Untuk Menghubungi

Taman Pendidikan No. 1 Cilandak Barat,
Jaksel
021.7305364

Masniari Siregar, Ibunda Empat Anak Tuna Rungu
Mengubah Keterbatasan Keempat Anaknya Menjadi Kesuksesan Melalui Kasih Sayang dan Doa
Memiliki anak tuna rungu bagi sebagian orang merupakan kekurangan yang harus ditutupi. Tapi berbeda halnya dengan Masniari. Ia justru lebih terdorong untuk mendidik dan memotivasi empat anaknya yang menderita tuna rungu untuk menggapai kesuksesan. Tekad itu pun berhasil berkat kerja keras yang dilakukannya bersama sang suami, Irwan Ibrahim. Bahkan salah satu diantaranya mampu meraih gelar S2 dengan keterbatasan yang dimilikinya. Bagaimana kisah sebenarnya?

Kamis (08/04) Sore, Realita menyambangi kediaman Masniari Siregar, seorang ibu yang memiliki empat orang anak menderita tuna rungu. Rumah Masniari Siregar terletak di perumahan Departeman Keuangan Karang Tengah, Tangerang, Banten. Rumahnya tak begitu besar, tapi nampak asri dengan beberapa pohon yang tertanam persis di depan bangunan rumah tersebut.

Sambutan hangat dari Masniari menyapa kedatangan Realita. Dengan penuh keramahan dan senyum khas, Masniari Siregar langsung mengajak Realita masuk ke dalam ruang tamu untuk berbagi cerita mengenai perjuangannya mengasuh dan mendidik anak-anaknya hingga meraih kesuksesan. Sambil duduk di atas sofa berwarna cokelat, Masniari pun mulai membuka obrolan dengan suasana yang cukup santai.

Wanita yang kerap disapa Masriani ini mengaku, bahwa memiliki anak adalah suatu anugerah tersendiri. Menurutnya, masih banyak perempuan yang sudah menikah bertahun-tahun namun tidak diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki anak. “Saya bersyukur bisa mempunyai anak,” ujarnya. Sejak menikah pada tahun 1942 dengan belahan jiwanya, Ali Panangaran Harahap (72) ia telah dikarunia 6 orang anak, yakni Barli Hakim harahap (43), Raja Muddin (42) Erwin Syarifuddin (40), Rachmita Maun (39), Linda Noura (37) dan Ade Nur Ima (35). Namun dari keenam anaknya hanya Raja Muddin dan Linda Noura yang normal. “Anak lainnya tuna rungu,” ungkapnya. Saat menikah, Masniari mengaku masih sangat muda yaitu berumur berumur 18 tahun sedangkan harahap berumur 28 tahun. Meski terpaut umur 10 tahun, hal tersebut tak membuat Masniari malu, “Cintalah yang menyakinkan saya untuk menikahinya,” cerita Masniari.

Mensyukuri Kekurangan Empat Anaknya. Meski mempunyai anak tuna rungu, Masniari tidak pernah menyesal telah melahirkan anak-anak tersebut. Baginya, anak adalah amanah yang harus dijaga meski memiliki kekurangan. Masniari juga tidak malu dan sakit hati ketika beberapa tetangga yang terkadang mencibirnya karena ia memiliki anak tunga rungu. “Kalau saya malu lalu bagimana dengan anak-anak saya, pasti mereka lebih tidak mempunyai kepercayaan diri lagi,” jelasnya. Masniari pun selalu membesarkan rasa kepercayaan diri anak-anaknya. Varanya adalah dengan mengatakan bahwa mereka anak yang normal seperti anak yang lain hanya saja kurang pendengaran dan susah untuk berbicara. “Saya selalu mengatakan demikian ketika anak-anak menanyakan kondisinya,” ujar Masniari. Sebagai seorang ibu yang memiliki empat orang tuna rungu tentunya membuat Masniari harus mendidik dengan ekstra keras. Pasalnya, kalau mereka dibiarkan, perkembangan anaknya tentu akan lambat. “Saya berbagi peran dengan suami, saya menjaga anak dan suami mencari uang,” terangnya. Suaminya sendiri bekerja di Departemen Keuangan.

Hampir setiap hari, Masniari selalu mendampingi keempat anaknya baik di sekolah maupun di rumah “Habis anak pulang sekolah, saya hampir tidak pernah keluar rumah untuk main ke tetangga. Waktu saya lebih banyak dihabiskan untuk menjaga anak-anak,” terangnya lagi. Kalau pun Masniari mau keluar biasanya ia pergi bersama suami dan anak-anaknya. Rutinitas kegiatannya tersebut diakui Masniari merupakan ungkapan kasih sayang dari dirinya dan suami. Melalui kasih sayang itulah, ia berharap perkembangan semua anak-anaknya mampu menampakkan keberhasilan di kemudian hari.

Masniari mengaku dalam mendidik anak-anaknya tidak pernah membeda-bedakan antara tuna rungu dan yang normal. “Bagi saya, semua anak sama saja. Jadi saya tidak pernah membeda-bedakan apalagi menganak-emaskan salah satu anak,” paparnya dengan logat batak yang sangat kental. Salah satu didikan yang ia terapkan kepada anak-anak adalah selalu displin dan bertanggung jawab terhadap berbagai macam tindakan yang dilakukan. Sejak kecil semua anak-anak sudah dibiasakan untuk bangun pagi dan sholat shubuh bersama. Setelah itu, mereka diharuskan untuk membersihkan dan merapikan tempat tidurnya masing-masing. “Yang paling bersih merapikan tempat tidur adalah Barli Hakim Harahap anak pertama,” kenangnya.
Budaya disiplin sengaja diterapkan oleh Masniari sejak dini, sebab menurutnya dengan menciptakan budaya disiplin sejak kecil maka akan membentuk karakter anak untuk bertanggung jawab dan mandiri ketika nanti dewasa.”Tidak selamanya saya hidup dengan anak-anak karena suatu saat anak-anak pasti akan hidup sendiri-sendiri dan berpisah dengan saya,” jelas Masniari. Selain itu, Masniari juga berharap kelak anak-anaknya tidak bergantung dengan orang lain karena memiliki kelemahan dalam pendengaran dan pengucapan.

Doa dan Kasih Sayang. Meski setiap hari Masniari selalu mendampingi anak-anaknya bukan berarti semua aktifitas dan kreatifitas anak-anaknya dibatasi. ”Saya tidak mengekang keinginan anak-anak, semua anak-anak saya bebaskan untuk menentukan jalannya masing-masing, karena mereka yang akan menjalani hidup”jelasnya. Seperti saat Rachmita Maun atau yang biasa disapa Mita ingin mengenyam pendidikan dasar di sekolah umum. Sebelumnya, Mita memang mengenyam pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB). Namun, ia kemudian memiliki keinginan untuk merasakan pendidikan di sekolah umum. Karena terus menerus merengek untuk bersekolah di sekolah umum, akhirnya keinginan Mita dikabulkan oleh Masniari. ”Kebetulan saya punya kenalan kepala sekolah jadi saya bisa memasukkan Mita di sekolah normal,” ujar nenek enam cucu ini. Mita sendiri mengaku ingin pindah karena merasa mampu untuk mengikuti pelajaran di sekolah umum. Setelah Mita masuk di sekolah umum, sang adik, Linda yang juga tuna runggu masuk di sekolah normal karena memiliki keinginan yang sama dengan Mita. Sedangkan dua kakaknya justru tidak mau masuk di sekolah normal. Meski tuna runggu, baik Mita maupun Linda bisa mengikuti pelajaran. Bahkan Mita selalu masuk dalam ranking sepuluh besar di kelasnya.

Selain mengajarkan budaya demokratis di tengah-tengah keluarga. Masniari juga sangat menekankan pendidikan kepada anak-anakanya, hampir semua anak-anaknya mengenyam bangku kuliah, kecuali Barli Hakim Harahap dan Erwin Syarifudin. Pasalnya, kedua kakak beradik tersebut tidak bersekolah di sekolah normal. Prestasi yang paling mengejutkan adalah Mita, anak keempatnya yang mampu melanjutkan pendidikannya hingga S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan mengambil Jurusan Interior.

Hampir semua anak-anak Masniari mengalami kesuksesan, dalam menjalani hidup, baik yang tuna rungu maupun yang normal. Salah satu contohnya adalah Barli yang bekerja sebagai pengusaha kebun karet. Rajamudin, sebagai supervisor di sebuah perusahaan bernama PT. Eka Timur Raya di kota Malang, Jawa Timur. Erwin berprogesi sebagai staff marketing di salah satu perusahaan pelayaran. Sedangkan Mita, menekuni karir sebagai dosen sekaligus disain Interior serta Linda bekerja di perusahaan asuransi PT. Bina Griya Upakara. Yang terakhir, Ade bekerja sebagai wiraswasta dan memiliki usaha sendiri yang cukup menguntungkan. Kesuksesan yang diraih anak-anaknya tersebut tak lain dan tak bukan selain usaha anak-anaknya yang gigih untuk belajar, juga disertai doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan dari ibunya. Tak hanya itu saja, didikan sang ibu yang mengajarkan kemandirian bagi anak-anaknya, meski sebagian diantaranya adalah tuna rungu. “Hampir setiap siang dan malam saya selalu mendoakan untuk kesuksesan anak-anak saya,” ungkapnya sembari menutup pembicaraan

Ingin Mendirikan Universitas Khusus Tuna Rungu
Rachmita Maun Harahap atau yang kerap disapa Mita ini terlahir mengalami kekurangan dalam pendengaran dan kesulitan untuk bicara. Meski demkian, Mita tidak pernah menyesali nasibnya tersebut. Ia justru bersyukur kepada Allah karena telah diberi kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang normal lainnya. Bagi Mita, kedua orang tuanya sangat berarti dalam perjalanan hidupnya. Disaat masih kecil teman sekolah sempat mencelanya. Namun, kedua orang tuanya selalu menenangkan hati Mita. Ia pun disarankan untuk selau berbesar hati. Selain itu, kedua orang tuanya juga sangat menyayangi semua anak-anak, tak terkecuali bagi anak-anak tuna rungu. Mita juga sangat bersyukur memiliki orang tua yang sangat peduli sekali dengan pendidikan anak-anaknya ”Kalau orang tua saya tidak peduli dengan pendidikan kami, mungkin saya tidak seperti sekarang,” jelas suami Irwan Ibrahim ini.

Sebagai tuna runggu, tentunya Mita sangat memahami betul kesulitan-kesulitan orang yang senasib denganya. Apalagi di keluarganya sendiri ada tiga orang yang tuna rungu. Terdorong ingin membantu teman-teman sensibnya itu pada tanggal 5 desember 2001 lalu, ia mendirikan Yayasan SEHJIRA (Sehat Jiwa Raga). Yayasan ini bergerak dalam pelatihan dan pendidikan khusus untuk tuna rungu. Selain mendirikan Yayasan SEHJIRA, Mita juga memiliki obsesi lain yang sangat besar yaitu mendirikan universitas khusus tuna rungu. Sebab di Indonesia, belum ada universitas khusus untuk tuna rungu. Dalam waktu dekat ini, rencanaya ia juga akan mengambil gelar doktor di Luar negeri. “Saya ingin mengambil gelar doktor,” ungkap Mita tanpa menjelaskan lebih lanjut.


Tentang penerima penghargaan

"Pelita Dalam rangka memperingati Hari Internasional Penyandang Cacat (Hipenca) di DKI Jakarta, Pemda DKI Jakarta melalui Dinas Sosial memberikan penghargaan kepada para penyandang cacat berprestasi.Pemberian Penghargaan disampaikan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta Prijanto diTMIl. Pemberian penghargaan tersebut diberikan kepada penyandang cacat berprestasi, dan non penyandang cacat secara perorangan, kelemba- gaan yang telah mengabdikan hidupnya bagi kepentingan kesejahteraan bagi penyandang cacat. Selain itu, bakti sosial pengobatan gratis, pemberian alat bantu penunjang fisik dan santunan uang serta bingkisan natural.Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta Budihardjo mengatakan penyandang cacat berprestasi mendapat sertifikat penghargaan dari Gubernur DKI Jakarta, terbaik perorangan yakni Ir Rachmita Maun Harahap, ia adalah cacat Tuna Rungu berprestasi dibidang akademisi, pembicara dalam seminar-seminar dan seorang motivator. "

PRESTASI WANITA VENEZUELA



Saya lahir 21 Maret 1986, di Cumana, aku didefinisikan oleh ibuku malam seperti lagu cinta, terfokus, penuh kasih sayang dan sangat independen. Karakteristik keempat telah memungkinkan saya untuk membentuk kepribadian yang kokoh dan untuk alasan itu saya telah melampaui cacat pendengaran, yang tidak lagi merupakan halangan tetapi suatu kekuatan. Memuncak ketika para guru tingkat keenam dipanggil untuk ibuku dan mereka berkata kepadanya bahwa dia bisa belajar di sekolah tata bahasa yang normal. Gagasan takut kepadanya, bagaimana akan saya untuk mengembangkan, atau apa yang akan dilakukan jika mereka ditempatkan bersama dengan saya; luckyly mengalahkan rasa takut dan pengalaman yang menyenangkan dan dengan dukungan layanan dari Kementerian Pendidikan, menyarankan bahwa mereka untuk para profesor sehingga mereka tahu seperti mendistribusikan pengetahuan untuk saya, berhasil lulus ke saya sebagai sarana teknis di bidang Ilmu Komputer di Unit Educative Modest Silva. Aku tidak pernah suka untuk menempatkan kepada saya untuk mendengar aparatur Karena mereka dihasilkan sakit kepala kepada saya. Saya juga tidak pernah rajin untuk menggunakan bahasa klasik dari orang-orang tuli, Karena tidak menarik bagi saya. Saya lebih memilih untuk menciptakan bahasa sendiri, dengan yang saya telah dibuat sejak saya punya alasan mengerti menggunakan, terjadi melalui "gadis penakut. "Ini adalah bahwa orang tidak menyadari masalah saya sampai Anda sudah lama berkomunikasi dengan saya". Vanessa empat bulan yang lalu Memutuskan untuk menjadi duta besar # 1 dari Socieven, Deafblind Venezuela. "Ketika ia masih kecil aku berpikir bahwa ia tidak punya kesempatan untuk menjadi tuli, sekarang aku tahu bahwa dia tidak demikian. Aku tidak pernah membayangkan bahwa orang-orang buta dan tuli ada pada saat yang sama, karena alasan itu ingin memberikan pesan Paskah dan kepada para kerabat, yang ada kesempatan sehingga mereka juga pergi ke depan dan mereka berkomunikasi melalui bijaksana, menghormati alasan itu, saya mengagumi dan mendukung karya Socieven. "Exist Socieven duta dari banyak tokoh masyarakat, tapi Terutama Vanessa adalah karunia besar, Karena dia adalah seorang duta besar yang merupakan contoh sukses integrasi seperti orang cacat juga. Yang indah itu telah diketahui adalah bahwa hal itu telah menjadi hubungan konstan dan timbal balik kontribusi. Ini adalah dukungan seperti juru bicara dari penyebab Socieven deafblindness dan mencari cara untuk membayar kembali kepada-Nya, melakukan sebuah hadiah kepada-Nya pendengaran prostesis disumbangkan oleh koklea generasi terakhir Amerika, yang Full Version tertentu untuk mendengarkan suara, serta rehabilitasi sehingga sekarang dia belajar untuk mengasosiasikan suara ini, kami memfasilitasi seorang penerjemah waktu untuk menyelesaikan dia, yang memperkuat itu dalam sistem tanda dan masa depan untuk belajar membaca bibir. Mulai sekarang memiliki cara untuk communicational besar sempurna "tunggal karena dapat membaca dan menulis dengan tangan dengan sempurna apa yang dikatakan kepadanya. Hari yang lalu, Vanessa terhormat di kursi Dewan Kota Mayorship dari Baruta. The mata uang .. Berbagi dengan Vanessa Acara ini diselenggarakan sama sekali dengan Deafblind di Venezuela Untuk C. dan membiarkan tuli ratu untuk berbagi dengan Perwakilan berbagai lembaga yang membantu para penyandang cacat. Dunia berubah terus dan sekali lagi, Venezuela adalah pelopor fakta-fakta dengan Miss tuli pertama dalam sebuah kontes besar keindahan. Pada saat ini saya dalam persiapan untuk segera membagi keras untuk melewatkan hari untuk Internasional, sangat baik untuk mewakili negara saya dan harapan semua manusia dan mereka yang mendukung energi positif untuk dan untuk melakukannya atau membawa aku dan dengan demikian cofrog Tunjukkan kepada dunia bahwa orang-orang seperti saya dengan kondisi seperti pendengaran kita jika kita dapat all.At triufar saat ini saya alfrente dari yayasan saya Vanessa Peretti, yang bertanggung jawab untuk membantu Semua anak-anak dengan masalah pendengaran seperti aku. 


Untuk mendapatkan miss internasional merupakan salah satu prioritas saya untuk pergi sehingga untuk berhenti di nama negara saya dengan baik. Musik Hello my dear friends, saya ingin berbagi dengan Anda dalam hal ini. Tidak ada yang sebanding dengan sukacita menjadi Miss International adalah tidak mungkin kemiripan dengan kebesaran perasaan dan mewakili negara saya venezuela, dibandingkan dengan 80 negara di Miss International, saya cukup beruntung berada di sana, untuk bertemu banyak orang dan bahwa aku tahu, mata dunia diletakkan di Venezuela karena tidak ada keraguan untuk yang kedua datang dari Miss Venezuela memiliki demikian selalu dan akan selalu menjadi seorang wanita siap untuk berhasil. Venezuela saya katakan padanya tidak akan ada yang menghentikan mimpi-mimpi, karena saya pergi ke Miss International adalah salah satu yang terbesar dan kenangan tak terlupakan dalam hidup saya adalah menarik dan memperkaya pengalaman, dimana persahabatan dengan banyak gadis dari semua benua, yang cinta dari keluarga dan dukungan tanpa syarat dari negara saya dan semua teman-temanku, cerah dan ceria malam itu di mana ada klasifikasi yang diharapkan oleh negara saya bahwa saya bisa sangat sedih, tapi di mana aku merasakan hal terbaik yang bisa terjadi ketika kita begitu jauh dari rumah yang kasih sayang dan solidaritas dari masing-masing dan setiap orang dari kalian ke arahku dia Vanessa Peretti venezuela Miss International 2006. Saya ingin mengucapkan terima kasih, terima kasih untuk mimpi Vanessa Peretti tetap hari ini lebih hidup dari sebelumnya. Venezuela Terima kasih untuk membuat saya begitu beruntung dan sangat bahagia. Aku akan selalu menjadi ratu dan temannya hari ini, besok dan selamanya. Aku cinta kalian semua. Yang berterima kasih kepada anda semua: Vanessa Peretti. Miss International venezuela 2006. -------------------------------------------------- --- Hello my dear friends, ingin berbagi dengan Anda dalam hal ini. Tidak ada yang membandingkan dengan kebahagiaan menjadi Miss International, kesamaan tidak mungkin dengan kebesaran merasa kepada saya dan mewakili negara saya Venezuela, di depan 80 negara di Miss International, aku mendapat keberuntungan bisa berada di sana , untuk tahu banyak orang Dan yang mereka tahu saya, mata dunia tertuju pada Venezuela Karena tidak ada keraguan maupun oleh kedua bahwa Miss yang selalu muncul dari Venezuela Malthus telah dan akan disiapkan oleh seorang wanita selalu menang. Untuk venezuela saya saya mengatakan bahwa tidak akan ada yang menghentikan mimpi-mimpi, untuk gaji saya pergi ke Miss Internasional padanya dia adalah salah satu kenangan besar dan tak terlupakan, tapi untuk hidup saya, adalah menarik dan memperkaya pengalaman, dimana persahabatan dari begitu banyak gadis-gadis dari semua benua, cinta dari keluarga dan dukungan tanpa syarat dari negara saya dan semua teman-temanku, diterangi dan bersorak malam di mana tidak ada menunggu klasifikasi negara saya dimana saya bisa sangat sedih, tetapi di mana saya merasa hal terbaik hal ini bisa terjadi dari kita ketika kita begitu jauh dari rumah yang kasih sayang dan solidaritas dari semua dan setiap salah satu dari kalian terhadap orang yang saya Vanessa Peretti Miss venezuela Internasional 2006. Maksud saya terima kasih kepada mereka, ribu terima kasih sehingga mimpi Vanessa Peretti tinggal lebih hidup hari ini daripada sebelumnya. Venezuela terima kasih untuk membuatku sangat beruntung dan sangat bahagia. Selalu saya akan para ratu dan temannya hari ini, besok dan selalu. Master untuk semua. Merasa yang telah bersyukur dari semua Anda: Vanessa Peretti. International Miss Venezuela 2006.


Sabtu, 12 Desember 2009

Penyandang Tuna Rungu itu Kini S2

17 Maret 2006 12:31:23

Prestasinya memang tidak cumlaude, tapi semangat belajarnya untuk bisa meraih gelar strata dua (S2), patut diacungi jempol dan dicontoh. Apalagi dirinya termasuk penderita tuna rungu ringan, dimana ia mengalami gangguan pendengaran dan jika berbicara kurang jelas atau gagap. Itulah sosok Saprizul Kamil, wisudawan Program Pascarsarjana Teknik Ligkungan ITS yang mendapat beasiswa dari Departemen Pekerjaan Umum.

Prestasinya memang tidak cumlaude, tapi semangat belajarnya untuk bisa meraih gelar strata dua (S2), patut diacungi jempol dan dicontoh. Apalagi dirinya termasuk penderita tuna rungu ringan, dimana ia mengalami gangguan pendengaran dan jika berbicara kurang jelas atau gagap. Itulah sosok Saprizul Kamil, wisudawan Program Pascarsarjana Teknik Ligkungan ITS yang mendapat beasiswa dari Departemen Pekerjaan Umum.

“Saya menyadari akan kekurangan diri ini, tapi itu bukan berarti keinginan untuk terus belajar dan belajar jadi terhambat. Kalau ada kesempatan dan beasiswa lagi, saya masih ingin melanjutkan sampai ke program doktor,” kata Kamil saat ditemui Kamis siang (16/3) di Kampus ITS, bersama isteri dan seorang anaknya.

PNS dari Pemda Indramayu yang ditempatkan di Kantor Lingkungan Hidup ini mengakui, hambatan pendengaran dan komunikasi memang acapkali mengganggu proses ia menerima materi kuliah, tapi berkat hobi membaca yang sangat luar biasa pada dirinya, hambatan-hambatan itu pun seolah tak ada. “Kemauan saya untuk belajar memang besar, sehingga hambatan apa pun seringkali saya abaikan. Apalagi para dosen dalam memberikan materinya selalu dilengkapi dengan hand out lewat visualisasi, sehingga saya lebih mudah untuk mengerti,” kata ayah satu orang anak kelahiran Bandung, 11 April 1966 ini.

Diungkapkan Kamil, tunarungu yang ia alami itu, berawal ketika di usia balita ia terjatuh dari tempat tidur. Akibatnya pendengarannya terganggu sehingga akhirnya ia lambat dalam merespon pembicaraan orang. “Itulah sebabnya saat saya TK dan SD, orang tua memasukkan saya di sekolah SLB bagian B. Tapi setelah itu saya mencoba untuk melanjutkan ke SMP dan SMA umum. Karena saya ingin membuktikan kalau saya mampu,” kata alumnus SMA Negeri 9 Bandung ini.

Seusai SMA, Kamil pun melanjutkan ke Program Diploma Tiga Akademi Teknik Pekerjaan Umum Bandung, setelah itu ia alih jenjang ke Program S1 di Universitas Sahid, Jakarta, Jurusan Teknik Lingkungan, lulus tahun 1995. Sebelum diangkat menjadi PNS tahun 1997, ia pun menyempatkan diri pengikuti Program Diploma Satu Komputer. “Saya sangat menikmati belajar, karena itu apa pun hambatan yang mengganjal, termasuk kondisi saya yang masuk kategori penderita tuna rungu ringan, tidak saya hiraukan. Kalau ada kesempatan lagi saya ingin melanjutkan ke program doktor,” katanya.

Apa kunci suksesnya? “Untuk belajar orang seperti saya, dibutuhkan kemauan yang kuat dan tidak minder dengan siapa pun dan mau membaca. Karena modal utama dengan kondisi pendengaran yang mengalami gangguan, meski sudah dibantu alat, adalah membaca,” katanya.

Sayangnya, katanya menambahkan, orang-orang tunarungu malas untuk belajar membaca, sehingga selalu saja tertinggal jauh pengetahuannya dari orang normal. “Hal lainnya harus pandai-pandai beradaptasi dengan lingkungan. Ini penting, karena kalau kita minder akibat pengaruh lingkungan, maka nantinya akan menenggelamkan diri sendiri,” kata Kamil yang pernah aktif di Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia).

Isteri dan Dosen Bangga

Bagaimana tanggapan sang Isteri, Nunung Setyawan, dengan prestasi yang telah diraih suaminya? “Sejak awal saya bangga dengan kelebihan yang dimiliki suami saya. Tidak sedikit pun saya minder berdampingan denganya, karena saya melihat kecerdasannya sangat luar biasa,” kata Nunung.

Diungkapkan ibu dari Azizah Zahra Kamillah ini, suaminya termasuk orang yang suka membaca, karena itu dalam waktu 1,5 tahun kuliah di ITS Surabaya, jumlah buku yang akan dikirim ke Bandung mencapai 3 kuintal lebih. “Dia orangnya memang suka membaca dan membeli buku. Di rumah tumpukan buku memenuhi sebagian dari luas rumahnya. Boleh dibilang gajinya hanya habis untuk keperluan membeli buku. Buku apa saja dari mulai buku agama, buku ekonomi dan sosial, termasuk buku dari ilmu yang diperdalamnya Teknik Lingkungan,” katanya.

Di mata sang isteri, Kamil termasuk suami yang sangat pengertian dan lemah lembut. Kelembutannya melebihi orang yang normal. “Umumnya orang tuna rungu itu tempramental dan mudah tersinggung, tapi dia tidak. Terhadap anak juga demikian sangat perhatian dan hati-hati dalam mendidik,” katanya.

Sedang di mata dosen pembimbingnya, Dr Yulinah Trihadiningrum, Kamil termasuk sosok yang memiliki kemauan belajar sangat luar biasa. “Di tengah keterbatasannya ia mau untuk mengganti proposal tesisnya yang memang dinilai tidak memenuhi syarat untuk peserta program beasiswa PU,” katanya.

Ia cukup memenuhi ekspektasi yang diinginkan pembimbing. Misalnya, ungkap Yulinah, saat diminta untuk mengganti judul skripsinya, dan ia harus menunjukkan bagaimana melakukan observasi ke objek yang akan diteliti, Kamil hadir di tengah-tengah kegiatan ibu-ibu PKK yang sedang melakukan pelatihan dan pembinaan, demikian juga ia sering hadir diantara para motivator-motivator untuk pengelolaan sampah di daerah Jambangan. “Sungguh dia seorang peneliti yang ulet, kemauannya keras, dan mencoba untuk berhasil di tengah keterbatasannya,” kata Yulinah yang mengaku untuk berkomunikasi dengannya lebih banyak menggunakan bahasa tangan dan gerakan bibir. Sekali lagi, kata Yulinah menambahkan, ia bangga dengan prestasi yang diperoleh Kamil. “Lebih bangga lagi ternyata dalam penguasaan bahasa Inggris-nya cukup baik. Ini terbukti ia bisa diwisuda dengan nilai TOEFL 477, sementara ada mahasiswa yang normal belum berhasil karena nilai TOEFL-nya tidak lulus,” kata Yulinah.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons